Tuesday, December 31, 2013

Ruang Cinta

RUANGCINTA

Kata orang jadi jomblo, tanpa pasangan, single itu adalah hal yang paling enak. Gak ada yang ngatur-ngatur. Gak ada yang larang sana-sini. Gak ada yang ngabisin duit kita. Gak ada…gak ada…gak ada… gak ada yang bisa diperjuangkan dan gak ada yang enak sebenarnya. Umurku hampir 20 tahun, tapi selama itu juga ada gak berjuang buat siapa-siapa. Bukan karena aku tidak normal. Aku hanya berprinsip. Tapi prinsip itu yang membuatku merasa kesepian sekarang.
            Prinsip 1: Tamat S1 Secepat Mungkin
            Ikut kelas akselerasi di SMP dan SMA membuatku menjadi sarjana lebih cepat dari orang normal lainnya. Masuk sekolah dasar diumur 7 tahun. Dan aku sudah menyandarng gelar S.E. diumur ke 18 ini. Skripsi dan wisuda cepat. Gak kaya mahasiswa lain yang nulis sambil nunggu bulan berakhir. Aku menulis skripsi hanya kurang lebih 2 bulan saja. Dosen pengen aku cepet-cepet lulus. Katanya dia takut aku semakin sering mengkritisi didalam kelas. Baiklah. Maafkan aku dosen.
            Prinsip 2: Mencapai Cita-cita Ayah dan Ibu
            Sebagai orang yang bisa dikatakan kuno, ayah dan ibu hanya berharap 1 hal, aku menjadi seorang sarjana dan memiliki usaha sendiri. Mungkin orang-orang yang datang ketokoku akan melihatku dan berkata, “Mas, bukunya ini masih ada stok gak ya? Soalnya ini kan sampel”. Baiklah. Mukaku mungkin terlalu muda untuk menjadi seorang bos. Toko bukuku memang cukup ramai. Apalagi dikota pelajar seperti Yogyakarta ini. Apalagi sistem komputerisasi lebih memudahkan aku untuk mengecek pemasukan bila tidak sedang ditoko.
            Prinsip ke 3 adalah prinsip yang paling sulit, Ngikutin maunya orang tua. Nah loh. Maunya mereka kan banyak. Untungnya sih mereka realistis, gak pernah minta yang muluk-muluk. Misalnya minta helikopter, rumah 2M, jalan-jalan keluar negeri, makan banyak. Dan untungnya mereka belum minta apa-apa setelah aku berprinsip seperti ini. Kira-kira sudah 12 tahun mereka membiarkanku memilih hidupku. Bukan membebaskan secara tidak benar. Mereka masih mengontrolku. Lagipula aku bukan anak nakal yang harus dimarahin terus-terusan. Aku selalu bisa membanggakan mereka waktu aku sekolah. Sekarang prinsip ini yang mengganggu tidurku berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.
            “Le (panggilan untuk anak laki-laki Jawa), kemari, ibu mau bicara”, kata ibu dari ruang tengah. Aku segera turun dari kasur dan berlari mendekat. “Ada apa, Bu?”, sahutku sambil tiduran dipangkuan ibu. “Le, kamu kan sudah besar. Sebentar lagi kamu sudah 20 tahun..”. “Adi baru 18 tahun bu. Masih 2 tahun lagi untuk jadi 20”, potongku. “Ya kan 2 tahun itu cepet. Mbok kamu itu bergaul sama temen-temen. Masa kamu mau sibuk kerja terus? Wong kita hidup juga sudah nyaman. Kamu juga sudah banggain ibu sama ayah. Kamu juga masih muda. Waktunya kamu masih seneng-seneng. Kesemsem sama cewek. Apa perlu ibu jodohkan? Gak malu?”. Nah kan ibu mulai bahas ini lagi. Ini bahasan ke 50kalinya lho sejak aku ulang tahun ke 18tahun 2bulan lalu. “Bu, Adi kan sudah bilang, Adi bakalan nunggu Tara lulus SMA dulu baru Adi pacaran. Nanggung kan tinggal berapa bulan lagi. Masa ibu gak bisa sabar?”, sahutku beralasan. Tara adikku masih SMA kelas 3 dan masih 17 tahun. Jadi aku masih beralasan tahun ini. Aku tidak bisa membayangkan aku harus bilang apa tahun depan.
--
            Aku bingung. Tapi ibu benar. Aku masih 18 tahun. Teman-temanku juga masih seneng-seneng. Malah aku iri karena mereka sudah merasakan apa itu pacaran. Baiklah, aku akan membuat kejutan untuk ibu. Aku janji akan sesegera mungkin membawa seorang wanita soleh padanya.
            “Selamat Datang di RuangCinta! Silahkan isi data diri Anda sebelum melakukan konsultasi. Terima Kasih”
            Tulisan itu terpampang jelas dilayar laptopku sekarang. Aku baru saja menemukan sebuah situs yang kata teman oke punya buat menjodohkan pasangan. Malahan mereka sudah berhasil mempertemukan pasangan yang sudah tua, penyandang cacat, homoseksual, atau remaja-remaja yang iseng-iseng. Setelah ku isi data diri, sambil menunggu pihak RuangCinta menhubungiku, aku segera menghubungi Ezra, sahabat yang merekomendasikan ide Biro Jodoh RuangCinta ini.
            “Kalau lu mau kesan pertama lu bagus, lu ikut gue ke distro. Budget lu kan banyak, sekali-sekali ngehabisin duit banyak juga gak apa lah. Oke?”, katanya sambil menarikku tanpa persetujuan. Ia membawaku keberbagai macam distro dari yang murah sampai mahal, dari yang kecil sampai besar. Semua barang yang dirasa ‘cocok’ dia beli. Aku sih cuma kebagian mencoba baju yang dia ambil.
            Saat ditengah jalan, teleponku berdering. Nomor asing. “Halo?”, salamku. “Halowww selamat siang dengan Bapak Aditya Adi Muradi ya? Ini dari RuangCinta, Pak! Saya ingin memberitahukan kalau diakhir bulan ini kami mengadakan promo istimewa untuk anda yang jomblo. Biaya dijamin murah, pasangan dijamin gak murahan! Gimana? Berminat?”, katanya tanpa jeda ditambah lagi namaku diganti-ganti pula! Siall!
Setelah mengurus masalah dengan biro dan Ezra aku pulang kerumah dan segera packing. Acara akan dimulai tanggal 31 Desember-1 Januari. Katanya Jodoh Extra Kilat. Mana diadainnya jauh lagi. Emang sih bagian buat dianya murah, tapi pesawat bayar lagi, hotel bayar lagi, sama aja bohong deh. Kocek kudu dirogoh lebih dalam hanya untuk acara ini. Baru kali ini aku mengeluarkan uang banyak hanya untuk acara konyol dan tidak jelas.
            --
            KRINGGG!!!
            Jam wekerku sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Tunggu. 10 PAGII!! Aku telatt! Cepat-cepat aku segera mandi dan meminta Ezra mengantarku kebandara. Jadwal yang tertera ditiket pesawat Last Check-In nya aja harus jam 9.50 dan akan Take-Off jam 10.20.
            “Jangan lupa tanggal 2 temen ibu sama anaknya mau kesini!”, teriak ibu dari dalam rumah dan membuatku malu karena selama perjalanan Ezra ngetawain aku.
            --
            “Thank you ya, Bro!”, teriakku sambil setengah berlari dan setengah membalikkan badan kearah Ezra. “Good Luck! Buruan dapet jodoh!”, sahutnya. Semua mata dibandara langsung menatap kearahku dan kearah Ezra. Sial. Lagi-lagi aku kena sial.
            Dug!
            “Aw!”, teriakku dibarengi teriakan histeris seorang cewek yang menubrukku. “Hati-hati dong, Mas!”, katanya. “Maaf saya sedang buru-buru”, sahutku sambil berlalu tanpa memperdulikannya yang kesulitan berdiri karena kopernya yang berat itu. Sesampainya didalam pesawat, aku mulai lega. Duduk dikelas bisnis sehingga hanya ada 2 bangku dan sebelahku kosong. Jadi aku memejamkan mata sambil berharap bisa tertidur lagi karena perjalanan akan terasa sangat menjenuhkan karena tidak bisa bermain hape.
            --
            “Hiih! Masnya ini gak bisa lebih sopan sedikit apa?!”, kata seorang cewek yang suaranya berhasil membangunkanku. Aku melihat kesamping dan… cewek yang tadi! “Ada apa sih, Mba?”, sahutku polos. Dia memlototi bagian bawah. Aku mengikuti arah lirikan matanya dan melihat sepatuku yang memang kulepas tadi. “Ada yang salah, tah?”, kataku masih berpura-pura polos. “Lho, ya ada! Bau kaos kaki mas nya itu lho gak enak!”, sahutnya ketus. Dan aku mulai menyadari kalau bau yang sedari tadi kusangka bau orang habis kentut adalah bau kaos kakiku yang sudah seminggu lupa kucuci karena masih bersarang disepatuku yang jarang kupakai.
            “Maaf ya maaf”, kataku cepat-cepat memakai sepatuku. Wajahnya jutek. Dia langsung memalingkan wajah menghadap jendela. Baiklah. Baru kali ini aku ketemu cewek bener-bener berani, jutek, judes dan bla bla bla.
            Lima belas menit kemudian aku tidak mendengar ketukan sepatu yang terus saja cewek itu lakukan setelah membangunkan aku. Aku membaca buku yang baru saja sampai ditokoku kemarin dan kuambil sebuah pagi tadi. Buku tentang ‘Bagaimana Memberi Kesan Pertama yang Bagus’. Sedikit aneh sih saat membaca. Apalagi saat pramugari menawarkan makanan sambil menahan tawa membaca judul buku yang sedang kubaca.
            Bluk. Kepalanya bersandar begitu saja dipundakku. Membuat jantungku tiba-tiba berdegub sangat kencang. Bagaimana tidak, ini kali pertama duduk disebelah seorang cewek. Pakai acara senderan dipundak lagi!
            --
            Sesampai dipintu keluar bandara, aku segera menemukan seorang bapak (yang keliatannya sopir RuangCinta) yang membawa secarik kertas berisi tulisan. Tapi dikertas itu bukan hanya namaku saja ternyata. ‘Aditya Adi’ dan dibawahnya tertulis ‘Muria Tia’ dan beberapa nama lain. Siapapun itu, kuharap aku tidak sial untuk kesekian kalinya.
            Aku dan si sopir itu menunggu hampir setengah jam dipintu keluar bandara dan tidak ada satu cewekpun yang mendatangi kami. Jadi karena aku sudah terlalu capek dan mabuk udara, aku memutuskan untuk kehotel lebih dahulu dengan taksi.
            “Permisiiii! Bapak Adi! Ini Yipi dari Ruang Cinta. Yuhuuuu! Spadaaa!”, teriaknya dari luar pintu hotel dan sangat keras. Aku jadi malu. Pasti banyak orang ngira macem-macem. Duh.
            “Eh Bapak….”, kata Yipi sambil berbalik dari mengobrol dengan seorang nenek yang ternyata adalah alumnus RuangCinta dan ia terbengong melihatku. Matanya mendelik penuh curiga menatapku seinci demi seinci dari atas sampai bawah. “Ada apa ya?”, tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala. “Oh ini beneran bapak Adi?”, tanyanya penasaran. Aku mengangguk. “Jadi begini, Pak. Hari ini anda akan dipertemukan dengan calon pasangan anda di Jimbaran. Sopir saya akan mengantar anda tepat jam 6 sore ini. Jangan terlambat. Ini saya bawakan satu set jas dan sepatu. Tapi inget! Ini nyewa!”, katanya sambil menyeringai. Ini namanya pemerasan kalian tau. Huh.
            Tepat jam 5.30, aku sudah siap dan tidak sabar menunggu siapa yang akan dipasangkan denganku. Kuharap sih cantik dan baik hati. Yang penting bisa jadi menantu kesayangan ibu saja sudah cukup.
            Ternyata aku terlambat. Padahal jam tanganku masih menunjukkan pukul 5.50. Disana sudah duduk seorang cewek dengan rambut terurai indah gemerlap karena sinar matahari yang hendak turun. Aku segera merapikan diri dan berjalan kearahnya. Oke, dibuku bilang cara pertama adalah dengan tutur yang baik, lalu dengan tatapan yang menenangkan, lalu guyonan yang gak garing, dan seterusnya.
            “Permisi, Selamat Sore. Anda Muria Tia ya? Kenalkan saya Aditya Adi”, kataku sambil menunggunya berbalik kearahku. Dan dia berbalik… “Kok mas lagi?! Terus darimana mas tau nama saya?!”, katanya ketus dan yang ternyata dia cewek yang bikin aku sial diacara ini. Ya Tuhanku…
            “Yaudah, Mba, saya minta maaf. Lagipula kita datang kesini kan mahal, jadi jangan disia-siain. Siapa tau kita beneran jodoh? Saya sih kemari karena iseng aja. Lagian saya masih muda. Masih 18 tahun”, kataku sambil duduk disebelahnya. Kita terdiam beberapa saat. “Ya gak apa, Mas. Saya memang lagi sensi aja. Banyak masalah. Orang tua nuntut saya harus mau dijodohkan sama anak temennya yang konon katanya sudah mapan dan orang pinter. Masa iya saya baru 18 tahun juga harus dijodoh-jodohin? Jaman sekarang gitu lho, mas! Gak logis!”, katanya jengkel. “Aku juga baru aja putus mas. Bapak sama ibu gak mau aku pacaran beda agama. Apalagi dandanannya nakal. Padahal dia baik banget lho”, ceritanya. Aku cuma bisa manggut-manggut. Dan kita berdua terdiam lagi sambil melihat matahari tenggelam di Pantai Jimbaran ini.
            “Aku malah belum pernah pacaran, Mba. Saya gak mau pacaran kalau adik saya belum lulus. Tapi sampai sekarang ya saya cuma sibuk kerja dan ngurus keluarga, belum ada yang bisa pas dihati. Jadi ya ibu saya juga mau menjodohkan saya sama anak temennya”, kataku lesu. “Jadi kita bernasib sama ya, Mas. Sama-sama dijodohin. Siapa lagi ya orang yang bernasib sial kaya kita gini?”, katanya sama lesunya.
            Setelah makan malam, suasana mulai mencair. Kita ngobrol ngalor-ngidul tentang kami masing-masing lagi. Ngomongin keluarga, sekolah, kerjaan, tipe pacar dan banyaakkkk lagi.
            --
            TES… TES…
            Butiran-butiran air tiba-tiba turun perlahan-lahan. Kami saling bertatapan. Menyamakan pikiran bahwa kita harus segera berlindung. Tapi belum sempat berdiri ribuan butiran air lainnya menyerbu lebih dahsyat. Aku melepaskan jasku dan merentangkannya diantara kepala kami sambil berlari-lari gak jelas mencari tempat yang teduh.
            BLAARRR!!
            Tia memelukku eraatt karena takut dan refleks aku memeluknya balik. Sesaat kemudian kami saling berpandangan dan salah tingkah. “Hahaha”, tawanya memecah keheningan. “Kenapa?”, tanyaku. “Lucu aja, Mas. Tadi saya jutek tiba-tiba kita bisa deket kaya temen akrab. Hehe”, terangnya. Aku ikutan malu dibuatnya. Aku menatap jam tanganku. Hari sudah sangat larut tapi hujan masih mengurung kami berdua dibawah sebuah bangunan tua yang tidak terawat.
            Kalau dilihat-lihat, Tia ini memang cantik. Matanya yang bulat membuatku teringat sama Bella Swan. Badanku yang kurus kering berasa seperti Edward Cullen. Hihihi. Tapi jujur, dia memang cantik. Dan waktu aku menatap matanya, ada keteduhan disana. Seperti rasa nyaman yang tidak bisa kutemukan ditiap-tiap lembar buku yang kubaca. Seperti ada rasa lain menusuk kedalam jiwaku.
            “Lihat!”, serunya memecah keheningan diantara aku dan dia. Secepat kilat ia memegang tanganku dan menarikku berlari menuju ketengah pantai dan baru tersadar kalau hujan sudah reda daritadi. Kembang api bermunculan dilangit-langit gelap pulau Bali malam tahun baru itu. Dan aku tiba-tiba merasakan getaran lain didalam diriku. Tapi aku belum tau pasti apa itu. Jadi kubiarkan saja hal ini terjadi. Toh nanti siang aku sudah boleh pulang.
            “Yuhuuuuu… Gimana kencan dimalam tahun baru kalian? Asik kan? Romantis kan? RuangCinta gitu loh!”, kata Yipi yang tiba-tiba nongol waktu aku dan Tia sedang menunggu sopir dilobby hotel. “Lihat disisi kanan kalian. Mereka itu alumnus RuangCinta ke 155 yang berhasil kami jodohkan ditahun ini. Jadi eike harap kalian pasangan ke 156 yang berhasil juga. Seee you babaiii….”, katanya dengan cepat dan langsung pergi begitu saja.
            “Oh ya, Mas Adi jangan lupa uang tambahan buat ngeringin jasnya yang basah! Inget ya!”, katanya sambil nongol didipintu masuk lobby dan langsung berlalu begitu saja. Aku dan Tia tertawa bersamaan.
            --
            Dari kota yang sama, jadi aku dan Tia bersama-sama pulang ke tanah Yogyakarta. Apalagi jam keberangkatan harus tertunda karena cuaca pagi itu sedikit lebih buruk.
            “Sayang ya harus delay. Padahal baru saja ibu sms kalau aku kudu kerumah temannya nanti malam. Gimana ya, Mas? Aku sedih banget”, katanya sambil menutup kedua matanya dengan tangannya. “Ya mau gimana, Mba? Toh pilihan bapak sama ibunya mba juga gak mungkin ngawur. Mungkin dia bener-bener sudah mapan?”, sahutku gak jelas. “Ya tapi kan saya gak kenal dia mas! Huhuhu”, katanya sambil sedikit berisak. Aku menatap sekelilingku yang juga sedang melihatiku. Dikiranya aku ngehamilin anak orang kali ya? Haduh!
            “Udah dong jangan nangis, Mba. Malu lho dilihatin orang?”, kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Dia menatapku. Memelukku tiba-tiba. “Masnya baik banget sih! Baru sekali ini lho ada cowok yang perhatian waktu cewek nangis. Makasih ya, Mas!”, katanya didekat telingaku. Aku langsung merasa sedikit canggung.
Dipesawat kita berdua bercanda ria sambil ketawa-ketawa yang kadang-kadang bikin orang sekitar jengkel saking kerasnya. Tapi perjalanan pulang ditahun baru ini terasa sangat cepat. Tau-tau sudah sampai dirumah dan beristirahat.
            “Le, ibu mau bicara sama kamu”, kata ibu membuka pintu kamarku dan memintaku menemaninya duduk diruang tengah. “Ibu tau kamu sudah dewasa, tapi dicoba aja pilihan ibu. Siapa tau cocok sama kamu. Daripada kamu ikut acara beginian”, katanya sambil menunjukkan selebaran RuangCinta yang aku print dan tidak sengaja kugeletakkan begitu saja dimeja belajar.
            “Le, buruan mandi!”, pinta ibu dari ruang tengah. Aku segera beranjak dan mandi. Tapi entah kenapa tumben banget sore itu aku tiba-tiba pengen berpakaian rapi walaupun dirumah. Dikamarpun aku menjaga sikap supaya bajuku tidak kusut. Aku menelepon Ezra untuk datang merayakan tahun baru dengan makan malam dirumahku. Karena kurasa ibu dan Tara sudah menyiapkan banyak makanan. Hitung-hitung berterima kasih padanya karena sudah membantuku kemarin.
            “Le, ada tamu. Temen ibu. Anak ceweknya cantik lho, Le. Seumuran sama kamu. Sana ditemuin dulu”, kata ibu lembut dari pintu kamarku. Entah kenapa tiba-tiba aku deg-degan gak karuan. “Lho? Kata ibu tanggal 2 datangnya? Piye tah ibu iki? *gimana sih ibu ini”. “Ya udah sana ditemuin dulu. Wong kamu sudah wangi gitu mau dandan macam gimana lagi? Udah ganteng. Pasti Ria kesemsem sama kamu, Le”, kata ibu dengan wajah berseri-seri. Ya sudahlah yang penting aku bisa lihat bapak dan ibu senang sudah cukup. Diturutin aja.
            “Zra, aku keluar duluan ya. Nanti aku samperin lagi. Tunggu sampai makan malam ya”, kataku pada Ezra yang tengah asik main Nitendo Wii dikamarku. Dia cuma mengangguk saja.
            Aku berjalan menuju ruang tamu dan kudapati sosok sedang duduk membelakangiku. Dari belakang ia tampak seperti…
            “Ini Adi anakku. Di, ini Muria anaknya tante Diana”, kata Ibu memperkenalkan. Dan benar! Saat dia membalik badan dia adalah Tia! “Mba Tia?!”, “Mas Adi?!”, kata kami bersamaan. Orang tuaku dan orang tuanya terlihat bingung.
“Lho? Kalian sudah saling kenal?”, tanya mereka berempat hampir bersamaan. “Oh, baru saja kok”, sahut kami bebarengan tanpa aba-aba atau kompromi terlebih dahulu.
            --
            “Dunia itu sempit ya, Mas”, katanya memecah keheningan saat kami berdua duduk diayunan dihalaman belakang rumahku. Aku mengangguk. “Sepertinya RuangCinta itu memang benar-benar mujarab ya, Mba”, sahutku tiba-tiba. Dia terbengong. “Maksudnya, Mas?”. “Ya buktinya kita dijodohin. Tau gitu saya gak perlu buang-buang uang buat bayar sewa jasnya yang mahal itu”, sahutku ketus. “Iyaya, dresnya mereka juga mahal”, timpalnya. Lalu kita berdua tertawa terbahak-bahak.
            “Mas, ngomong-ngomong jangan panggil saya ‘Mba’ dong. Kan saya baru 18 tahun”, katanya. “Oh iya saya lupa. Kita sama-sama baru 18 tahun kok. Jadi panggil aja saya Adi”, kataku singkat. “Oh ya, selamat tahun baru 2014 ya, Tia”, kataku sambil tersenyum. “Selamat tahun baru juga, Adi”, sahutnya manis.
            “Enaknya ya berduaan! Temen garing nunggu makan juga gak bakal digagas!”, kata Ezra dari belakang sambil menepuk bahuku. Ia menjulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Tia. Kami bertiga bercanda bersama dihalaman belakang malam itu.
            “Cie sudah akrab ya?”, kata bapak mengagetkanku. Tia mengangguk, aku menggeleng. “Ya coba diakrabin dulu. Siapa tau kalian beneran jodoh? Kan lumayan sudah saling kenal keluarganya, jadi gak bakal salah milih”, kata bapak lagi. “Iya, bro! Bener kata bapak. Siapa tau kalian memang jodoh? Hehehe..”, sahut Ezra sambil nyengir kuda. “Hus!”, sergahku.
“Ya udah yuk nyalain petasan! Mumpung masih tanggal 1 nih! Hahaha”, seru Tara sambil menunjukkan sekotak kembang api. Dan semua orang yang ada dirumahku malam itu ikut tertawa dan berbahagia.
            Hari itu adalah hari teristimewa bagiku karena setiap Tahun Baru mulai detik itu dan seterusnya adalah saksi cinta dua insan yang tidak sengaja bertemu dan dipertemukan dan indahnya lagi adalah jodoh. Hehe.


            “Jodoh itu sebenarnya gak bakal kemana-mana kok. Tinggal kitanya aja gimana caranya sampai nemuin dimana letaknya. Cinta butuh perjuangan. Tapi jangan neko-neko. Kalau udah didapetin, dijaga, dituntun kearah yang kalian inginkan, bukan kearah yang cuma kamu inginkan. Itu namanya egois”, kata Yipi pada si sopir yang ternyata adalah jelmaan Cupid dan anak buahnya yang dikirim Zeus untuk memberikan jodoh agar tidak kesepian diawal tahun baru 2014.

No comments:

Post a Comment