RUANGCINTA
Kata orang jadi jomblo, tanpa pasangan, single itu adalah hal yang paling enak. Gak ada yang ngatur-ngatur. Gak ada yang larang sana-sini. Gak ada yang ngabisin duit kita. Gak ada…gak ada…gak ada… gak ada yang bisa diperjuangkan dan gak ada yang enak sebenarnya. Umurku hampir 20 tahun, tapi selama itu juga ada gak berjuang buat siapa-siapa. Bukan karena aku tidak normal. Aku hanya berprinsip. Tapi prinsip itu yang membuatku merasa kesepian sekarang.
Prinsip 1: Tamat S1 Secepat Mungkin
Ikut kelas akselerasi di SMP dan SMA
membuatku menjadi sarjana lebih cepat dari orang normal lainnya. Masuk sekolah
dasar diumur 7 tahun. Dan aku sudah menyandarng gelar S.E. diumur ke 18 ini. Skripsi
dan wisuda cepat. Gak kaya mahasiswa lain yang nulis sambil nunggu bulan
berakhir. Aku menulis skripsi hanya kurang lebih 2 bulan saja. Dosen pengen aku
cepet-cepet lulus. Katanya dia takut aku semakin sering mengkritisi didalam
kelas. Baiklah. Maafkan aku dosen.
Prinsip 2: Mencapai Cita-cita Ayah dan Ibu
Sebagai orang yang bisa dikatakan
kuno, ayah dan ibu hanya berharap 1 hal, aku menjadi seorang sarjana dan
memiliki usaha sendiri. Mungkin orang-orang yang datang ketokoku akan melihatku
dan berkata, “Mas, bukunya ini masih ada stok gak ya? Soalnya ini kan sampel”.
Baiklah. Mukaku mungkin terlalu muda untuk menjadi seorang bos. Toko bukuku
memang cukup ramai. Apalagi dikota pelajar seperti Yogyakarta ini. Apalagi
sistem komputerisasi lebih memudahkan aku untuk mengecek pemasukan bila tidak
sedang ditoko.
Prinsip ke 3 adalah prinsip yang
paling sulit, Ngikutin maunya orang tua.
Nah loh. Maunya mereka kan banyak. Untungnya sih mereka realistis, gak pernah
minta yang muluk-muluk. Misalnya minta helikopter, rumah 2M, jalan-jalan keluar
negeri, makan banyak. Dan untungnya mereka belum minta apa-apa setelah aku
berprinsip seperti ini. Kira-kira sudah 12 tahun mereka membiarkanku memilih
hidupku. Bukan membebaskan secara tidak benar. Mereka masih mengontrolku.
Lagipula aku bukan anak nakal yang harus dimarahin terus-terusan. Aku selalu
bisa membanggakan mereka waktu aku sekolah. Sekarang prinsip ini yang
mengganggu tidurku berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.
“Le
(panggilan untuk anak laki-laki Jawa), kemari, ibu mau bicara”, kata ibu dari
ruang tengah. Aku segera turun dari kasur dan berlari mendekat. “Ada apa, Bu?”,
sahutku sambil tiduran dipangkuan ibu. “Le,
kamu kan sudah besar. Sebentar lagi kamu sudah 20 tahun..”. “Adi baru 18 tahun
bu. Masih 2 tahun lagi untuk jadi 20”, potongku. “Ya kan 2 tahun itu cepet. Mbok kamu itu bergaul sama temen-temen.
Masa kamu mau sibuk kerja terus? Wong
kita hidup juga sudah nyaman. Kamu juga sudah banggain ibu sama ayah. Kamu juga
masih muda. Waktunya kamu masih seneng-seneng. Kesemsem sama cewek. Apa perlu ibu jodohkan? Gak malu?”. Nah kan
ibu mulai bahas ini lagi. Ini bahasan ke 50kalinya lho sejak aku ulang tahun ke
18tahun 2bulan lalu. “Bu, Adi kan sudah bilang, Adi bakalan nunggu Tara lulus
SMA dulu baru Adi pacaran. Nanggung kan tinggal berapa bulan lagi. Masa ibu gak
bisa sabar?”, sahutku beralasan. Tara adikku masih SMA kelas 3 dan masih 17
tahun. Jadi aku masih beralasan tahun ini. Aku tidak bisa membayangkan aku
harus bilang apa tahun depan.
--
Aku bingung. Tapi ibu benar. Aku
masih 18 tahun. Teman-temanku juga masih seneng-seneng. Malah aku iri karena
mereka sudah merasakan apa itu pacaran. Baiklah, aku akan membuat kejutan untuk
ibu. Aku janji akan sesegera mungkin membawa seorang wanita soleh padanya.
“Selamat Datang di RuangCinta! Silahkan isi
data diri Anda sebelum melakukan konsultasi. Terima Kasih”
Tulisan itu terpampang jelas dilayar
laptopku sekarang. Aku baru saja menemukan sebuah situs yang kata teman oke punya
buat menjodohkan pasangan. Malahan mereka sudah berhasil mempertemukan pasangan
yang sudah tua, penyandang cacat, homoseksual, atau remaja-remaja yang
iseng-iseng. Setelah ku isi data diri, sambil menunggu pihak RuangCinta
menhubungiku, aku segera menghubungi Ezra, sahabat yang merekomendasikan ide
Biro Jodoh RuangCinta ini.
“Kalau lu mau kesan pertama lu
bagus, lu ikut gue ke distro. Budget lu kan banyak, sekali-sekali ngehabisin
duit banyak juga gak apa lah. Oke?”, katanya sambil menarikku tanpa persetujuan.
Ia membawaku keberbagai macam distro dari yang murah sampai mahal, dari yang
kecil sampai besar. Semua barang yang dirasa ‘cocok’ dia beli. Aku sih cuma
kebagian mencoba baju yang dia ambil.
Saat ditengah jalan, teleponku
berdering. Nomor asing. “Halo?”, salamku. “Halowww selamat siang dengan Bapak
Aditya Adi Muradi ya? Ini dari RuangCinta, Pak! Saya ingin memberitahukan kalau
diakhir bulan ini kami mengadakan promo istimewa untuk anda yang jomblo. Biaya
dijamin murah, pasangan dijamin gak murahan! Gimana? Berminat?”, katanya tanpa
jeda ditambah lagi namaku diganti-ganti pula! Siall!
Setelah mengurus masalah dengan biro dan Ezra aku
pulang kerumah dan segera packing. Acara akan dimulai tanggal 31 Desember-1
Januari. Katanya Jodoh Extra Kilat. Mana diadainnya jauh lagi. Emang sih bagian
buat dianya murah, tapi pesawat bayar lagi, hotel bayar lagi, sama aja bohong
deh. Kocek kudu dirogoh lebih dalam hanya untuk acara ini. Baru kali ini aku
mengeluarkan uang banyak hanya untuk acara konyol dan tidak jelas.
--
KRINGGG!!!
Jam wekerku sudah menunjukkan pukul
10 pagi. Tunggu. 10 PAGII!! Aku telatt! Cepat-cepat aku segera mandi dan
meminta Ezra mengantarku kebandara. Jadwal yang tertera ditiket pesawat Last
Check-In nya aja harus jam 9.50 dan akan Take-Off jam 10.20.
“Jangan lupa tanggal 2 temen ibu
sama anaknya mau kesini!”, teriak ibu dari dalam rumah dan membuatku malu
karena selama perjalanan Ezra ngetawain aku.
--
“Thank you ya, Bro!”, teriakku
sambil setengah berlari dan setengah membalikkan badan kearah Ezra. “Good Luck!
Buruan dapet jodoh!”, sahutnya. Semua mata dibandara langsung menatap kearahku
dan kearah Ezra. Sial. Lagi-lagi aku kena sial.
Dug!
“Aw!”, teriakku dibarengi teriakan
histeris seorang cewek yang menubrukku. “Hati-hati dong, Mas!”, katanya. “Maaf
saya sedang buru-buru”, sahutku sambil berlalu tanpa memperdulikannya yang
kesulitan berdiri karena kopernya yang berat itu. Sesampainya didalam pesawat,
aku mulai lega. Duduk dikelas bisnis sehingga hanya ada 2 bangku dan sebelahku
kosong. Jadi aku memejamkan mata sambil berharap bisa tertidur lagi karena
perjalanan akan terasa sangat menjenuhkan karena tidak bisa bermain hape.
--
“Hiih! Masnya ini gak bisa lebih
sopan sedikit apa?!”, kata seorang cewek yang suaranya berhasil membangunkanku.
Aku melihat kesamping dan… cewek yang tadi! “Ada apa sih, Mba?”, sahutku polos.
Dia memlototi bagian bawah. Aku mengikuti arah lirikan matanya dan melihat
sepatuku yang memang kulepas tadi. “Ada yang salah, tah?”, kataku masih
berpura-pura polos. “Lho, ya ada! Bau kaos kaki mas nya itu lho gak enak!”,
sahutnya ketus. Dan aku mulai menyadari kalau bau yang sedari tadi kusangka bau
orang habis kentut adalah bau kaos kakiku yang sudah seminggu lupa kucuci
karena masih bersarang disepatuku yang jarang kupakai.
“Maaf ya maaf”, kataku cepat-cepat
memakai sepatuku. Wajahnya jutek. Dia langsung memalingkan wajah menghadap
jendela. Baiklah. Baru kali ini aku ketemu cewek bener-bener berani, jutek,
judes dan bla bla bla.
Lima belas menit kemudian aku tidak
mendengar ketukan sepatu yang terus saja cewek itu lakukan setelah membangunkan
aku. Aku membaca buku yang baru saja sampai ditokoku kemarin dan kuambil sebuah
pagi tadi. Buku tentang ‘Bagaimana Memberi Kesan Pertama yang Bagus’. Sedikit
aneh sih saat membaca. Apalagi saat pramugari menawarkan makanan sambil menahan
tawa membaca judul buku yang sedang kubaca.
Bluk. Kepalanya bersandar begitu
saja dipundakku. Membuat jantungku tiba-tiba berdegub sangat kencang. Bagaimana
tidak, ini kali pertama duduk disebelah seorang cewek. Pakai acara senderan
dipundak lagi!
--
Sesampai dipintu keluar bandara, aku
segera menemukan seorang bapak (yang keliatannya sopir RuangCinta) yang membawa
secarik kertas berisi tulisan. Tapi dikertas itu bukan hanya namaku saja
ternyata. ‘Aditya Adi’ dan dibawahnya tertulis ‘Muria Tia’ dan beberapa nama
lain. Siapapun itu, kuharap aku tidak sial untuk kesekian kalinya.
Aku dan si sopir itu menunggu hampir
setengah jam dipintu keluar bandara dan tidak ada satu cewekpun yang mendatangi
kami. Jadi karena aku sudah terlalu capek dan mabuk udara, aku memutuskan untuk
kehotel lebih dahulu dengan taksi.
“Permisiiii! Bapak Adi! Ini Yipi
dari Ruang Cinta. Yuhuuuu! Spadaaa!”, teriaknya dari luar pintu hotel dan
sangat keras. Aku jadi malu. Pasti banyak orang ngira macem-macem. Duh.
“Eh Bapak….”, kata Yipi sambil
berbalik dari mengobrol dengan seorang nenek yang ternyata adalah alumnus
RuangCinta dan ia terbengong melihatku. Matanya mendelik penuh curiga menatapku
seinci demi seinci dari atas sampai bawah. “Ada apa ya?”, tanyaku sambil
menggaruk-garuk kepala. “Oh ini beneran bapak Adi?”, tanyanya penasaran. Aku
mengangguk. “Jadi begini, Pak. Hari ini anda akan dipertemukan dengan calon pasangan
anda di Jimbaran. Sopir saya akan mengantar anda tepat jam 6 sore ini. Jangan
terlambat. Ini saya bawakan satu set jas dan sepatu. Tapi inget! Ini nyewa!”,
katanya sambil menyeringai. Ini namanya pemerasan kalian tau. Huh.
Tepat jam 5.30, aku sudah siap dan
tidak sabar menunggu siapa yang akan dipasangkan denganku. Kuharap sih cantik
dan baik hati. Yang penting bisa jadi menantu kesayangan ibu saja sudah cukup.
Ternyata aku terlambat. Padahal jam
tanganku masih menunjukkan pukul 5.50. Disana sudah duduk seorang cewek dengan
rambut terurai indah gemerlap karena sinar matahari yang hendak turun. Aku
segera merapikan diri dan berjalan kearahnya. Oke, dibuku bilang cara pertama
adalah dengan tutur yang baik, lalu dengan tatapan yang menenangkan, lalu guyonan yang gak garing, dan seterusnya.
“Permisi, Selamat Sore. Anda Muria
Tia ya? Kenalkan saya Aditya Adi”, kataku sambil menunggunya berbalik kearahku.
Dan dia berbalik… “Kok mas lagi?! Terus darimana mas tau nama saya?!”, katanya
ketus dan yang ternyata dia cewek yang bikin aku sial diacara ini. Ya Tuhanku…
“Yaudah, Mba, saya minta maaf.
Lagipula kita datang kesini kan mahal, jadi jangan disia-siain. Siapa tau kita
beneran jodoh? Saya sih kemari karena iseng aja. Lagian saya masih muda. Masih
18 tahun”, kataku sambil duduk disebelahnya. Kita terdiam beberapa saat. “Ya
gak apa, Mas. Saya memang lagi sensi aja. Banyak masalah. Orang tua nuntut saya
harus mau dijodohkan sama anak temennya yang konon katanya sudah mapan dan
orang pinter. Masa iya saya baru 18 tahun juga harus dijodoh-jodohin? Jaman
sekarang gitu lho, mas! Gak logis!”, katanya jengkel. “Aku juga baru aja putus
mas. Bapak sama ibu gak mau aku pacaran beda agama. Apalagi dandanannya nakal.
Padahal dia baik banget lho”, ceritanya. Aku cuma bisa manggut-manggut. Dan
kita berdua terdiam lagi sambil melihat matahari tenggelam di Pantai Jimbaran
ini.
“Aku malah belum pernah pacaran,
Mba. Saya gak mau pacaran kalau adik saya belum lulus. Tapi sampai sekarang ya
saya cuma sibuk kerja dan ngurus keluarga, belum ada yang bisa pas dihati. Jadi
ya ibu saya juga mau menjodohkan saya sama anak temennya”, kataku lesu. “Jadi
kita bernasib sama ya, Mas. Sama-sama dijodohin. Siapa lagi ya orang yang
bernasib sial kaya kita gini?”, katanya sama lesunya.
Setelah makan malam, suasana mulai
mencair. Kita ngobrol ngalor-ngidul tentang
kami masing-masing lagi. Ngomongin keluarga, sekolah, kerjaan, tipe pacar dan
banyaakkkk lagi.
--
TES… TES…
Butiran-butiran air tiba-tiba turun
perlahan-lahan. Kami saling bertatapan. Menyamakan pikiran bahwa kita harus
segera berlindung. Tapi belum sempat berdiri ribuan butiran air lainnya
menyerbu lebih dahsyat. Aku melepaskan jasku dan merentangkannya diantara
kepala kami sambil berlari-lari gak jelas mencari tempat yang teduh.
BLAARRR!!
Tia memelukku eraatt karena takut
dan refleks aku memeluknya balik. Sesaat kemudian kami saling berpandangan dan
salah tingkah. “Hahaha”, tawanya memecah keheningan. “Kenapa?”, tanyaku. “Lucu
aja, Mas. Tadi saya jutek tiba-tiba kita bisa deket kaya temen akrab. Hehe”,
terangnya. Aku ikutan malu dibuatnya. Aku menatap jam tanganku. Hari sudah
sangat larut tapi hujan masih mengurung kami berdua dibawah sebuah bangunan tua
yang tidak terawat.
Kalau dilihat-lihat, Tia ini memang
cantik. Matanya yang bulat membuatku teringat sama Bella Swan. Badanku yang
kurus kering berasa seperti Edward Cullen. Hihihi. Tapi jujur, dia memang
cantik. Dan waktu aku menatap matanya, ada keteduhan disana. Seperti rasa
nyaman yang tidak bisa kutemukan ditiap-tiap lembar buku yang kubaca. Seperti
ada rasa lain menusuk kedalam jiwaku.
“Lihat!”, serunya memecah keheningan
diantara aku dan dia. Secepat kilat ia memegang tanganku dan menarikku berlari
menuju ketengah pantai dan baru tersadar kalau hujan sudah reda daritadi.
Kembang api bermunculan dilangit-langit gelap pulau Bali malam tahun baru itu.
Dan aku tiba-tiba merasakan getaran lain didalam diriku. Tapi aku belum tau
pasti apa itu. Jadi kubiarkan saja hal ini terjadi. Toh nanti siang aku sudah
boleh pulang.
“Yuhuuuuu… Gimana kencan dimalam
tahun baru kalian? Asik kan? Romantis kan? RuangCinta gitu loh!”, kata Yipi
yang tiba-tiba nongol waktu aku dan Tia sedang menunggu sopir dilobby hotel.
“Lihat disisi kanan kalian. Mereka itu alumnus RuangCinta ke 155 yang berhasil
kami jodohkan ditahun ini. Jadi eike
harap kalian pasangan ke 156 yang berhasil juga. Seee you babaiii….”, katanya dengan cepat dan langsung pergi begitu saja.
“Oh ya, Mas Adi jangan lupa uang
tambahan buat ngeringin jasnya yang basah! Inget ya!”, katanya sambil nongol
didipintu masuk lobby dan langsung berlalu begitu saja. Aku dan Tia tertawa
bersamaan.
--
Dari kota yang sama, jadi aku dan
Tia bersama-sama pulang ke tanah Yogyakarta. Apalagi jam keberangkatan harus
tertunda karena cuaca pagi itu sedikit lebih buruk.
“Sayang ya harus delay. Padahal baru
saja ibu sms kalau aku kudu kerumah temannya nanti malam. Gimana ya, Mas? Aku
sedih banget”, katanya sambil menutup kedua matanya dengan tangannya. “Ya mau
gimana, Mba? Toh pilihan bapak sama
ibunya mba juga gak mungkin ngawur.
Mungkin dia bener-bener sudah mapan?”, sahutku gak jelas. “Ya tapi kan saya gak
kenal dia mas! Huhuhu”, katanya sambil sedikit berisak. Aku menatap
sekelilingku yang juga sedang melihatiku. Dikiranya aku ngehamilin anak orang
kali ya? Haduh!
“Udah dong jangan nangis, Mba. Malu
lho dilihatin orang?”, kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Dia menatapku.
Memelukku tiba-tiba. “Masnya baik banget sih! Baru sekali ini lho ada cowok
yang perhatian waktu cewek nangis. Makasih ya, Mas!”, katanya didekat
telingaku. Aku langsung merasa sedikit canggung.
Dipesawat kita berdua bercanda ria sambil
ketawa-ketawa yang kadang-kadang bikin orang sekitar jengkel saking kerasnya.
Tapi perjalanan pulang ditahun baru ini terasa sangat cepat. Tau-tau sudah
sampai dirumah dan beristirahat.
“Le,
ibu mau bicara sama kamu”, kata ibu membuka pintu kamarku dan memintaku menemaninya
duduk diruang tengah. “Ibu tau kamu sudah dewasa, tapi dicoba aja pilihan ibu.
Siapa tau cocok sama kamu. Daripada kamu ikut acara beginian”, katanya sambil
menunjukkan selebaran RuangCinta yang aku print dan tidak sengaja kugeletakkan
begitu saja dimeja belajar.
“Le,
buruan mandi!”, pinta ibu dari ruang tengah. Aku segera beranjak dan mandi.
Tapi entah kenapa tumben banget sore itu aku tiba-tiba pengen berpakaian rapi
walaupun dirumah. Dikamarpun aku menjaga sikap supaya bajuku tidak kusut. Aku menelepon
Ezra untuk datang merayakan tahun baru dengan makan malam dirumahku. Karena kurasa
ibu dan Tara sudah menyiapkan banyak makanan. Hitung-hitung berterima kasih
padanya karena sudah membantuku kemarin.
“Le,
ada tamu. Temen ibu. Anak ceweknya cantik lho, Le. Seumuran sama kamu. Sana ditemuin dulu”, kata ibu lembut dari
pintu kamarku. Entah kenapa tiba-tiba aku deg-degan gak karuan. “Lho? Kata ibu
tanggal 2 datangnya? Piye tah ibu iki?
*gimana sih ibu ini”. “Ya udah sana ditemuin dulu. Wong kamu sudah wangi gitu mau dandan macam gimana lagi? Udah
ganteng. Pasti Ria kesemsem sama kamu, Le”,
kata ibu dengan wajah berseri-seri. Ya sudahlah yang penting aku bisa lihat
bapak dan ibu senang sudah cukup. Diturutin aja.
“Zra, aku keluar duluan ya. Nanti aku
samperin lagi. Tunggu sampai makan malam ya”, kataku pada Ezra yang tengah asik
main Nitendo Wii dikamarku. Dia cuma mengangguk saja.
Aku berjalan menuju ruang tamu dan
kudapati sosok sedang duduk membelakangiku. Dari belakang ia tampak seperti…
“Ini Adi anakku. Di, ini Muria
anaknya tante Diana”, kata Ibu memperkenalkan. Dan benar! Saat dia membalik
badan dia adalah Tia! “Mba Tia?!”, “Mas Adi?!”, kata kami bersamaan. Orang
tuaku dan orang tuanya terlihat bingung.
“Lho? Kalian sudah saling kenal?”, tanya mereka berempat
hampir bersamaan. “Oh, baru saja kok”, sahut kami bebarengan tanpa aba-aba atau
kompromi terlebih dahulu.
--
“Dunia itu sempit ya, Mas”, katanya
memecah keheningan saat kami berdua duduk diayunan dihalaman belakang rumahku.
Aku mengangguk. “Sepertinya RuangCinta itu memang benar-benar mujarab ya, Mba”,
sahutku tiba-tiba. Dia terbengong. “Maksudnya, Mas?”. “Ya buktinya kita
dijodohin. Tau gitu saya gak perlu buang-buang uang buat bayar sewa jasnya yang
mahal itu”, sahutku ketus. “Iyaya, dresnya mereka juga mahal”, timpalnya. Lalu
kita berdua tertawa terbahak-bahak.
“Mas, ngomong-ngomong jangan panggil
saya ‘Mba’ dong. Kan saya baru 18 tahun”, katanya. “Oh iya saya lupa. Kita
sama-sama baru 18 tahun kok. Jadi panggil aja saya Adi”, kataku singkat. “Oh
ya, selamat tahun baru 2014 ya, Tia”, kataku sambil tersenyum. “Selamat tahun
baru juga, Adi”, sahutnya manis.
“Enaknya ya berduaan! Temen garing
nunggu makan juga gak bakal digagas!”, kata Ezra dari belakang sambil menepuk
bahuku. Ia menjulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Tia. Kami bertiga
bercanda bersama dihalaman belakang malam itu.
“Cie sudah akrab ya?”, kata bapak
mengagetkanku. Tia mengangguk, aku menggeleng. “Ya coba diakrabin dulu. Siapa
tau kalian beneran jodoh? Kan lumayan sudah saling kenal keluarganya, jadi gak
bakal salah milih”, kata bapak lagi. “Iya, bro! Bener kata bapak. Siapa tau
kalian memang jodoh? Hehehe..”, sahut Ezra sambil nyengir kuda. “Hus!”,
sergahku.
“Ya udah yuk nyalain petasan! Mumpung masih tanggal 1
nih! Hahaha”, seru Tara sambil menunjukkan sekotak kembang api. Dan semua orang
yang ada dirumahku malam itu ikut tertawa dan berbahagia.
Hari itu adalah hari teristimewa
bagiku karena setiap Tahun Baru mulai detik itu dan seterusnya adalah saksi
cinta dua insan yang tidak sengaja bertemu dan dipertemukan dan indahnya lagi
adalah jodoh. Hehe.
“Jodoh itu sebenarnya gak bakal
kemana-mana kok. Tinggal kitanya aja gimana caranya sampai nemuin dimana
letaknya. Cinta butuh perjuangan. Tapi jangan neko-neko. Kalau udah didapetin, dijaga, dituntun kearah yang
kalian inginkan, bukan kearah yang cuma kamu inginkan. Itu namanya egois”, kata
Yipi pada si sopir yang ternyata adalah jelmaan Cupid dan anak buahnya yang
dikirim Zeus untuk memberikan jodoh agar tidak kesepian diawal tahun baru 2014.
No comments:
Post a Comment